…bangsa yang boros kah kita???
Tuesday, April 3rd, 2007introduction… saat ini gw coba untuk buat blog dengan penulisan yangberbeda…sejalan dengan umur gw yang bertambah, gw coba buat blog dengan penulisan lebih dewasa, walau untuk beberapa kata masih gw pakai seperti kata ‘gw’
sesekali waktu dosen gw pernah ngomong dikelas kalo bangsa kita ini boros… boros dalam arti tidak efektif… benarkah???
setelah lama tidak menulis blog, akhirnya kesampaian juga buat nulis. diblog ini gw mau membahas tentang prinsip bangsa ini, budaya bangsa ini, termasuk akhirnya tentang prinsip hidup gw yang menurut gw sendiri belum efektif… terlepas dari benar atau tidak, ini semua hasil pemikiran gw jadi tolong dihargai…
sekali waktu, ada dosen matematika, mengajar Kalkulus III (Multi-Variabel) yang ngajar gw, beliau marah tiba-tiba soalnya kelas ribut. waktu marah dia melontarkan kata-kata yang cukup menggugah, begini isinya (kira-kira) :
"kalian ini bangsa yang boros, boros karena berbicara di dalam kelas, kalo mau ngobrol silakan di luar saja, ga usah ikut kuliah, masuk kuliah dan setelah keluar tidak dapat apa-apa. Boros!
kalian ini bangsa yang korup, dalam arti kata korup dalam belajar, sks yang disediakan dalam kuliah berapa, kalian hanya belajar mandiri berapa jam seminggu. membaca sedikit langsung merasa mengerti –bisa satu ngomongnya bisa semua, latihan soal tidak mau, membuat ringkasan tidak bisa akhirnya dibuatkan oleh dosennya dalam bentuk handout. bukan hanya mahasiswa nya saja yang korup, dosennya juga korup, nyontek sana-sini."
menarik dari perkataan dosen itu, gw berpikir berarti bangsa ini tidak efektif. apa yang kita lakukan tidak efektif. bila kita extend kata efektif, kita bertanya : apa itu efektif? apa itu efisien?
berangkat dari pernyataan efektif dan efisien, gw akan coba jawab berdasarkan kuliah yang lagi gw ambil, Perancangan Organisasi. efektif artinya tujuan yang kita buat bisa tercapai dengan baik dan se’mudah’ mungkin. dengan kata lain, kalau kita punya 3 tujuan, semua 3 tujuan tersebut tercapai dengan baik dan mendapatkannya ke3 tersebut dengan ‘mudah’. efisien artinya proses untuk melakukan tujuan tersebut bisa dilakukan dengan hemat. artinya kita mengukur dari segi biaya yang sudah dikeluarkan.
jadi apa artinya ‘kita bangsa yang boros’? mungkin bisa sedikit gw jawab, dari pemikiran gw, bangsa yang boros artinya bangsa yang tidak hemat, artinya bangsa yang tidak efisien, efisien terhadap sasaran yang ingin dicapai. bisa dikatakan juga untuk mencapai banyak sasaran kita lakukan dengan biaya yang banyak, yang harusnya tidak perlu demikian. bahkan kadang-kala kita berkata bangsa yang tidak efektif, karena banyak sasaran tapi sedikit yang terealisasi, bahkan keluar jargon : banyak sasaran agar ada yang terkena 1-2nya!
bila kita bertanya ke diri sendiri, benarkah kita bangsa yang boros? benarkah budaya kita seperti ini? jawabnya mudah, kita lakukan saja survey ke diri sendiri, tanyakan apakah anda seorang yang boros/tidak? ambil sample beberapa dan inferensikan… ini berdasarkan kuliah Statistika Industri. tapi bukan ini… yang benar adalah cukup tanyakan ke diri sendiri dahulu, apakah kita boros?
seorang dosen, mengajar Perancangan Organisasi, pernah menjawab sebuah pertanyaan : ’sebenarnya budaya organisasi di Indonesia ini apa, pak?’ Dosen itu mengajar Perancangan Organisasi, ilmu organisasi yang memfokuskan konteks di struktur, bagian makro dari organisasi. cukup mudah beliau menjawab, kira-kira seperti ini :
"bangsa ini tidak memiliki budaya apa-apa. artinya tidak ada dari semua elemen bangsa ini yang berbudaya sama. coba kalian pikir, orang apa yang kalian hormati? bangsa ini tidak menghormati pejabat. melihat pejabat negara, anda tidak akan menghormatinya, karena kita tahu kebanykaan dari mereka korupsi.
sekarang, kalo kalian melihat dosen, jujur, tua. karena jujur, untuk beli kacamata yang tangkainya putus saja tidak bisa, jadi ditambal dan kuliah naik sepeda tua karena tidak bisa beli kendaraan bermotor. apakah kalian menghormati juga? saya rasa tidak.
dahulu bangsa ini adalah bangsa yang menghormati priyayi. priyayi dipandang sekali. karena kita merebut kemerdekaan dengan perjuangan, yang mulai dihormati adalah pejuang yang berani maju ke perang. setelah merdeka, adakah lagi yang dihormati? karena pejuang tidak berjuang lagi.
kita adalah bangsa yang sedang mengalami transisi. dan beginilah keadaan bangsa yang sedang mengalami transisi. tidak ada yang dihormati, orangkaya tidak dihormati, pejabat tidak dihormati, bahkan seorang yang jujur tidak dihormati."
benar sekali kata dosen gw ini. terutama mungkin teman-teman berpikir, koq bisa tidak menghormati dosen yang jujur tersebut? hormat itu dalam arti kata tidak hanya di depan mata orang tersebut, tindakan kita juga. apakah di depan dosen tersebut kita akan tidak ribut pas kuliah? selalu belajar kuliah beliau di rumah? tidak menyontek saat ujian? saya rasa jawabnya tidak juga. kita akan selalu menjalani rutinitas yang sama, apapun dosennya. sekali lagi, kita dalam tatanan yang tidak punya budaya. akhirnya apapun budaya bisa masuk ke bangsa ini, dan hebatnya kebanyakan yang berpengaruh adalah keborosan bangsa ini.
contoh baru yang saya alami adalah saya dipanggil dosen. dia berkata kalau fasilitas komputer akan ditambah dan diupgrade untuk membantu perkuliahan. saya senang, sebagai asisten, saya bisa membuat jadwal yang lebih baik lagi. tapi, kemarin saya menghadap lagi dan dia ngomong fasilitas tidak jadi ditambah karena butuh tender. tender?untuk apa? saya bertanya tender dibutuhkan kalau kita menginginkan harga yang murah. kalau kita beli ke distributor langsung, untuk apa ada tender? dengan enteng, dosen itu menjawab, prosedurnya tetap harus ada tender. bangsa ini bisa menyalahkan sesuatu yang baik bila tidak sesuai prosedurnya… KOCAK!
contoh lagi, masih saat kuliah Perancangan Organisasi, dosen tersebut bercerita, sekali waktu dia mengkonsultasikan Departemen Dalam Negeri. ada seseorang yang mau di penjara karena sesuatu hal yang KOCAK. dia ditangkap karena tidak menggunakan prosedur yang sesuai untuk pengadaan barang. walaupun pengadaan barang tersebut jadi lebih murah, kondisi itu tetap salah. artinya bangsa ini aneh, mungkinkah seseorang di bui karena tindakannya menguntungkan negara? hal yang sangat aneh sekali, seakan-akan masih tidak percaya bahwa 1+1=2 dan dilakukan pengecekan dengan aksioma, teorema, dalil yang ada akhirnya mengakui bahwa 1+1=2. prosedur kita tidak flexibel tanda bahwa bangsa ini rigid, akibatnya bangsa ini boros.
inilah kondisi bangsa ini, gw sudah bahas panjang-lebar, tapi belum masuk ke masalah inti. apakah diri gw juga boros? let’s do a self-evaluation!
gw, bisa dibilang boros. gw juga heran atas ketidakborosan gw. mungkin biar ga bingung gw ceritain dari awal. waktu itu gw konsultasi ke psikolog kampus gw. bukan konsultasi, tapi nanya hasil psikotest 1 tahun yang lalu. hasilnya adalah gw seseorang yang memiliki ‘kemampuan’ produktifitas tinggi (IQ, pemahaman, nalar, logika); tapi bukan orang yang ‘produktifitas’ tinggi. akibatnya selama ini output yang gw keluarkan sedikit, tidak banyak dan tampak kurang maksimal. gw berpikir, salah kali ya. gw yang udah sibuk setengah mati ini, sampai bikin blog aja ga sempet, bisa dibilang ga produktif. bagaimana mungkin?
dari hasil tanya jawab, ternyata psikolog itu bilang, saya itu tidak produktif karena emosional gw ga menunjang untuk produktif. arti lainnya adalah gw punya sifat bawaan yang malas. bener juga!? selain itu kemampuan adaptasi dan kepekaan gw kurang. artinya gw ga bisa memenuhi harapan dari lingkungan yang rigid atau flexibel. mudahnya adalah orang yang peka dan adaptif, bisa bertindak sebagaimana mungkin sesuai dengan tuntutan lingkungannya. gw orangnya tidak seperti itu. dan akhirnya kebukti, setelah bertanya panjang lebar, sampai melewati batas waktu konsultasi yang membuat psikolog itu marah dan kesal. percaya/tidak, gw membuat seorang psikolog marah.
dari itu gw benar-benar ga enak, pada diri sendiri dan orang lain. ternyata gw orang yang tidak adaptif. dan mungkin gw bisa bertahan sampai sekarang ini karena faktor keberuntungan. beruntung karena lingkungan yang hadir di hidup gw sesuai dengan konteks hidup gw. dan gw semakin sadar kalau gw itu manusia yang sering membuat kesal orang lain (termasuk my brothers di jakarta… maaf selalu mengingkari janji untuk balik dan hedon bersama-sama… masih dalam proses menjadi manusia yang baik). ini sempat jadi pikiran selama berhari-hari. entah kenapa gw benci aja saat itu, merasa gw manusia yang paling ga baik. paling egois. dan sejak saat itu seakan-akan orientasi gw berubah. setidaknya bukan menjadi manusia yang seperti gw yang dulu tapi manusia yang bisa adaptif dan peka.
berangkat dari kata adaptif dan peka, manusia memang harus seperti ini supaya survive. jadi gw percaya penuh bahwa IQ gets you hire, EQ gets you promoted. gw merasa kebutuhan akan EQ yang lebih penting sekarang dan sejak saat itu, gw berusaha untuk mengenal teman-teman ITB gw. berusaha selalu ngumpul, main futsal bareng pagi-pagi j12, main ke kos siapa, senang-senang. dan konsekuensiny a adalah setiap kita berusaha mencodongkan ke sesuatu, akan ada bagian yang tidak condong lagi. balancing rules.
saat gw mencoba menaikkan status gw dikehidupan sosial, ternyata status gw diakademik ‘terancam’ dan ini terjadi karena gw mulai ‘meremehkan’ proses belajar itu sendiri. buktinya adalah hasil UTS gw. dari 5UTS yang sudah gw jalanin, ga ada semua yang gw merasa sukses. semuanya dirasakan tengah-tengah. dan ini yang menuntut gw berintropeksi lagi, mungkinkah ke2 hal dijalankan secara bersama-sama? akademik dan sosial berjalan bersama? dan bila mungkin, bagaimana caranya? ke2 hal itu sangat berbeda dan tidak bisa sinkron satu sama lain, tapi sayangnya, ke2 hal itu sama-sama penting. jawabannya akhrinya gw temukan, 2 hari lalu, hari senin, saat dosen Kalkulus 3 marah-marah.
The answer is I am not a EFFECTIVE PERSON!!!
My life is not an EFFECTIVE LIFE!!!
gw bukan orang yang efektif. itu yang membuat produktifitas gw rendah, itu yang membuat suatu hal yang gw jalanin tidak bisa berjalan dengan maksimal, itu yang membuat gw tidak bisa sinkron mengembangkan akademis dan sosial gw secara bersama-sama. jadi, benar-benar suatu hal yang penting bahwa hidup itu harus efektif. lalu bagaimana untuk hidup yang efektif?
kebetulan sekali, ada tugas Psikologi Industri. tugas itu menyuruh gw untung mengevaluasi pribadi dari suatu tujuan hidup yang ingin gw capai 1 tahun ke depan. berdasarkan evaluasi itu, bisakah diri gw mencapai tujuan tersebut? setelah di evaluasikan, ternyata hidup gw tidak produktif karena sikap gw yang tidak produktif. tidak produktif karena tidak bisa memilih apa yang penting dahulu dan yang tidak. tidak produktif karena tidak bisa adaptif dengan lingkungannya. dan ini terbukti benar, khususnya wakt hari minggu malam. saat gw belajar untuk 2UTS di senin.
senin itu, gw merasa sangat hopeless. hopeless karena tiba-tiba merasa tidak ada gairah untuk belajar, sedangkan besok 2 UTS yang benar-benar membuat stress. entah kenapa, ada yang aneh karena gw tidak mau belajar, materi tidak masuk ke otak. dan bisa dibilang, hasil belajar sampai j3 hanya prosedur semata yang mengatakan gw sudah siap, bukan gw siap untuk UTS. ternyata UTS yang dilakukan sebenarnya tidak susah sekali. butuh pemahaman dan latihan soal saja. sayangnya latihan soal yang gw jarang lakukan dan gw terjebak di bagian teknis (bukan teori). suatu hal yang sangat disayangkan.
dari suatu hal ini, ternyata gw percaya bahwa gw bukan orang yang efektif. kalau gw efektif, maka gw bisa memprioritaskan bagian mana yang harus dipelajari dan bagian mana yang tidak usah dipelajari dahulu. akhirnya kalau gw orang yang efektif maka 2 tujuan UTS gw bisa tercapai, bisa dikerjakan dengan sukses dalam arti kata tidak usah sukses sekali tapi setidaknya masih bisa memberikan nilai di atas rata-rata.
jadi, itulah yang gw petik bahwa kita ini bangsa yang boros. kenapa boros? boros mungkin karena manusianya yang boros. gw sendiri yang mengakui bahwa gw boros. gw sendiri yang mengakui bahwa gw tidak hemat. gw sendiri yang mengakui bahwa gw tidak produktif. dan sekarang gw mencoba untuk berbuat yang lebih baik lagi. mencoba mengatur hidup gw lebih efektif lagi. mencoba membuat hidup gw lebih efektif. mencoba membuat hidup gw lebih bermakna lagi karena ke-efektif-an gw dan produktifitas gw. ini semua buat orang lain dan diri gw sendiri.
kesimpulan dari blog ini adalah, ga ada waktu yang terlambat untuk memperbaiki diri sendiri menjadi lebih baik. life must go on… the show must go on… saatnya gw untuk menjadi orang yang lebih efektif lagi.
thanx buat semua yang baca blog gw. it’s my proud for u all who read my blog… btw, ternyata ada 2 adek angkatan gw yang baca blog gw dan ini membuat gw apreciate banget..
PEACE!
ENJOY UR LIFE!
Hardian Prabianto
13405097
Teknik Industri - Institut Teknologi Bandung
*next blog, gw ingin bercerita masih tentang keborosan bangsa ini, boros dalam arti real bukan spirit seperti tadi. banyak hal yang gw temui di kota ini yang menunjukkan bangsa ini boros bila di inferensikan. yah gw coba untuk bahas aj. untuk menambah pewacanaan.