…nagabonar
Friday, July 27th, 2007
A life that moves to gracious ends
Alfred Tennyson (1809 - 1892)
kadang2 hidup tidak pernah bisa ditebak. malah hidup selalu tidak pernah bisa ditebak. demikian yang gw alami barusan. bisa dikatakan beberapa hari ini gw agak bingung arah. entah orang lain ngomongnya gw biasa aj –mungkin liat muka gw yang biasa2 aj; tapi gw sendiri yang merasakan lagi hilang arah.
siang/sore tadi seseorang coba menyadarkan yang intinya ‘kenapa selalu ngiri akan orang lain?’ … yang gw tahu adalah hidup seseorang adalah sangat indah so kenapa kau irikan hidup orang lain
… yang gw tidak tahu adalah apakah benar hidup gw sangat indah, kalo benar kenapa gw ‘iri’kan hidup orang lain
… akhirnya semua kembali ke jawaban ya / tidak ; sebuah jawaban biner / boolean : yes or no.
gw coba lupakan sejenak masalah hidup gw indah / tidak… biarkan itu gw yang berpikir dan saat gw tahu jawabannya itu pasti gw akan bertambah dewasa dikit —ya sedikit… sekarang gw ingin bercerita tentang sebuah film, eh ga deng, 2 film yang barusan gw tonton maraton. bercerita tentang hal yang sama. NAGABONAR dan NAGABONAR JADI 2. so, what i am thinking, about the film, the story, the character, the meaning and another in this film, i want tell you now. :p
film pertama adalah Nagabonar. yup, bukan ‘Nagabonar Jadi 2′ tapi bener2 film jadulnya. gw nonton sambil makan mie babi yang gw beli di belakang Alloy –sori agak ga meaning. tapi bukan itu masalah mie babi yang gw makan. gw mo cerita filmnya.
Nagabonar, bercerita tentang (jelas) Nagabonar waktu dia berjuang dulu lawan NICA. dulunya dia bekas pencopet, ditahan oleh Jepang dan akhirnya di bebaskan setelah (kayaknya) Jepang kalah perang lawan AS. filmnya menurut gw bener2 kurang jelas karena menurut gw tu film terlalu simpel. alurnya jelas banget, ‘cuma’ menceritakan Nagabonar saat berperang dan endingnya adalah saat dia berhasil mengalahkan NICA di suatu tempat. ‘just that’.
alur di mulai saat Nagabonar keluar jadi penjara, kemudian ikut bertempur. pertempuran pertama kali waktu ngerebut gudang senjata Jepang. cerita selanjutnya adalah waktu Nagabonar perang di daerah medan dan sekitarnya, ikut berunding waktu gencatan senjata –untuk menentukan garis demarkasi (he5…kalo ga ngerti yang gw omongin berarti dulu pas sejarah sering tidur.. PEACE =p) ; juga diceritakan saat pembagian pangkat yang akhirnya Nagabonar diangkat jadi ‘Jenderal’. so… sebenernya Nagabonar jadi Jenderal karena waktu mo berunding kalo bisa harus ada pangkatnya, biar bikin takut NICA. awalnya maunya diangkat jadi Marsekal –berhubung Nagabonar agak kolot, malah maunya pangkat di bawah Marsekal… Jenderal deh.
kejadian laen yang diceritakan adalah saat Bujang dapet pangkat Kopral dan ga puas. ujug2 Bujang nyolong baju Nagabonar (yang ada tanda pangkat Jenderal)… dan pake pasukan buat nyerbu NICA, padahal jelas, waktu gencatan senjata. akhirnya Bujang mati ditembak dan NICA mengira itu Nagabonar yang mati. Nagabonar sedih waktu Bujang mati. Nagabonar sudah memperingatkan Bujang untuk tidak bertempur (dan waktu itu benar2 difilmkan). Nagabonar sedih dan dia harus menahan sedihnya dia saat memberikan ucapan terakhir pas nguburin Bujang –yang akhirnya lari ke rumah dan nangis terisak-isak.
hal yang lain adalah saat Nagabonar berkunjung ke rumah Kirana. Bujang nyuruh Nagabonar mandi dulu pake sabun Cap Burung Merak… he5 ;p . Nagabonar akhirnya harus menggigil gara2 mandi coz dia udah kena malaria (gw baru tahu kalo malaria, bikin orang ga boleh kena dingin). Nagabonar juga membela Kirana saat Kirana mo di ambil ama si Mariam, yang juga Jenderal wilayah lain. Nagabonar maen catur dengan taruhan Kirana yang akhirnya berakhir duel 1-1 –dan akhirnya berhenti setelah Nagabonar nembak kaki Mariam walau lengannya kena tembak juga.
Nagabonar yang waktu itu sedih karena Bujang mati akhirnya dihibur Kirana. Kirana ngomong dia mau mendampingi Nagabonar. sebagai buktinya Kirana cium pipi kanan Nagabonar, dan Nagabonar minta jatah pipi kiri yang akhirnya di cium juga. film berakhir saat Nagabonar nyerang NICA yang melanggar perjanjian gencatan senjata.
itu film tentang Nagabonar yang jadul punya. sekarang gw ga akan ngasi penjelasan detail tentang film Nagabonar Jadi 2. gw tahu kalo temen2 sekalian uda jelas nonton tu film. kenapa gw ceritain yang film jadul, karena gw liat jelas bahwa film yang kedua ini banyak hal yang disamakan dengan film pertama. mulai dari kata-kata ’sudah ku suruh Bujang tidak bertempur, tapi dia tetap bertempur. akhirnya dia mati dan dimakan cacing sekarang’. atau kata-kata tentang ‘mak kau kalau bicara seperti genjatan senjata’. itu semua sama persis. bahkan akting tingkah laku Nagabonar muda dengan Nagabonar tua juga sama persis. it’s ok! salute to om Deddy… your acting is the best!
waktu gw berpikir untuk menulis tentang topik ini untuk blog, gw bukan mau bercerita panjang lebar filmnya. gw ingin menceritakan makna film tersebut yang bisa gw dapat. dan setelah panjang-lebar menulis di atas agar temen2 ntar nyambung, sekarng saatny buat panjang-lebar membahas ini.
suatu hal yang gw benarkan adalah Deddy Mizwar menggunakan film sebagai ’syiar’. itu hal yang gw baca di review film, dan gw benarkan itu. film ini ngasi gw meaning yang dalam. suatu perjuangan bekas pejuang yang berani, anak yang berbakti, suami yang sayang dan cinta istrinya, ayah yang perhatian dan baik kepada anaknya dan (ini yang mungkin dilupa) rakyat yang cinta akan tanah airnya. so… ini semua berpengaruh ke karakter Nagabonar yang bisa dibilang kolot pada jaman ini tapi sangat terbuka.
karakter Nagabonar yang sangat gw suka baik di film pertama dan kedua. seseorang yang bodoh, kolot, tidak kenal takut, dan (ini yang penting) tidak punya kelembutan tapi punya kelembutan hati. gw terus-terang agak surprise saat dia ‘acting’ monolog, ngomong ke kuburan mak-kirana-bujang. itu semua se-akan ingetin gw bahwa dia tidak lupa siapa Nagabonar saat masih jadi Jenderal dulu.
suatu hal yang haru lagi adalah saat Nagabonar berkunjung ke Patung Proklamasi, Soekarno-Hatta. sebuah bentuk penghormatan yang amat-sangat diberikan. Hormat. gw mungkin kurang bisa merasakan sepenuhnya, tapi gw percaya, bila benar ada Nagabonar, dia pun pasti sangat hormat dan menangis saat memandang patung Soekarno-Hatta. ke-nasionalis-an Nagabonar, yang membuat gw tersentuh. setidaknya gw harus berpikir lagi, Indonesia, ada karena founding-father kita. hal-hal seperti ini yang gw ga pernah kepikiran. suatu ironi saat itu ditunjukkan dari patung penghormatan tapi patung tersebut berdiri di depan anak-anak terlantar yang sedang bermain bola. tampak sekali bangsa ini ‘masih’ gagal untuk mensejahterakan mereka.
suatu pikiran dari gw adalah kadang kala bila melihat Indonesia penuh korupsi oleh pejabat-pejabat; mungkin pejabat itu harus diberi hukuman hormat ke Soekarno-Hatta biar dia sadar, yang dilakuinnya itu udah ngecewain perjuangan pahlawan dulu. harusnya mereka ingat, sekarang juang pake otak bung! bukan maen bambu runcing lagi. gw ngomong ini bukan bermaksud ’sok’ nasionalis. tapi gw akuin dengan jujur gw orang yang nasionalis! gw percaya orang boleh ngomong suku-bangsa gw. tapi bukan berarti gw ga cinta Indonesia.
after that, I am touched again. gw tersentuh saat Nagabonar marahin polisi. pertanyaan sederhana. ‘Kenapa Bajaj tidak boleh masuk jalan protokol?’. polisi itu menjawab dengan benar dan polos (tapi tidak tepat). jawabnya karena Bajaj beroda 3. suatu jawaban seadanya yang mengacu pada peraturan sendiri tapi tidak punya esensi ‘apa sebabnya’. but, Nagabonar tidak mempermasalahkan dan akhirnya jalan kaki ke patung Soedirman.
suatu hal mengharukan adalah saat Nagabonar mempertanyakan ‘Kenapa patung seorang Jenderal Besar Soedirman, harus memberi hormat?’. gw-pun waktu itu berpikir, kenapa juga harus dengan pose hormat? dan jawaban klise adalah ‘itu pose yang gagah’. toh, akhirnya kita harus berpikir ulang, esensi yang patung adalah untuk mengingatkan (to remember / anamnesis) akan seseorang. seorang Jenderal Besar seharusnya dihormati dan bukan menghormati. itu ‘mungkin’ yang membuat Nagabonar menangis dan minta tangan Soedirman turun. ‘untuk apa kau hormati mobil yang beroda 4 itu?’. suatu ironi.
suatu hal klise terjadi saat Nagabonar dengan polos bertanya, ‘mana lapangan sepakbola-nya?’ saat dijelaskan tentang rencana pembangunan proyek. suatu statemen, ‘bagaimana bangsa ini bisa maju sepakbolanya bila tidak ada lapangan sepakbola’. suatu statemen yang bila kita pikirkan dengan dalam akan mengarah pada ‘mengapa selalu mengarah pada keuntungan? mana sosial-mu?’ sebuah kritik untuk bangsa ini dimana, kita selalu berorientasi pada profit, keuntungan. berorientasi menurut gw bukan suatu masalah. tapi bila kita selalu ‘fanatik’ pada hal-hal tersebut, ini bukan hidup namanya.
suatu hal klise terjadi saat Nagabonar di ajak Bonaga untuk dugem. simple quote. ‘bapak sudah banyak melihat orang yang tidak beruntung, sekarang saatnya bapak melihat orang yang beruntung karena kerja keras dan ketekunan mereka’. gw setuju bahwa keberuntungan dan kesuksesan orang hadir karena mereka bekerja keras dan tekun. gw akui dan gw-pun berusaha demikian. hanya, gw agak kecewa, kenapa dibawa ke tempat dugem? apakah itu sebuah tempat orang ‘pekerja keras dan tekun’ untuk berkumpul? toh, gw selama ini tetep yakin orang yang dateng ke situ cuma mo dapet fun doank. gw percaya, mereka yang dateng ke tempat dugem bisa bayar ‘mungkin’ dengan uang kerja-kerasnya tapi bisa juga ‘mungkin’ dengan uang bapak-ibunya yang kaya. hal terakhir ini yang paling gw ga suka. mau seneng di dugem pake duit dewe donk.
suatu hal mengharukan adalah saat Nagabonar memberikan pelajaran ‘how to make Love’. maksud gw, gimana caranya menaklukan wanita. suatu hal yang sangat gw mengerti karena gw tau dari film jadul, gmn Nagabonar sendiri ga bisa ngomong apa-apa saat deketin Kirana
. saat dia ngomong, Bonaga tidak diajarkan tentang kelembutan. itu suatu statemen yang bikin gw tersentuh. gw sangat tahu gmn jadi orang saat dia tidak bisa mengatakan cinta padahal dalam hatinya ingin. tanggung jawab yang akhirnya membuat Nagabonar harus tinggal dan mengajarkan Bonaga apa itu ‘kelembutan’.
he5… dan tampaknya mungkin bokap gw juga harus ngajarin gw tentang ini, setelah beberapa lama gw belajar dan tampaknya susah sekali untuk mengerti apa itu ‘kelembutan’… =p
suatu hal mengharukan adalah saat Bonaga (hmm..akhirnya tentang Bonaga juga..he5) tidak menandatangi kontrak. gw mungkin harus belajar banyak dari Bonaga. saat gw harus memilih sesuatu dari ‘hati’. jelas, bahwa Bonaga tahu bapaknya sangat amat mencintai kuburan Mak-Kirana-Bujang. dan dari itu mungkin kita semua harus belajar, money can’t buy me love. money is not everything. sebuah kerendahan hati yang membuat kita berpikir, uang bukan tujuan tapi sarana. Bonaga yang akhirnya memilih untuk membatalkan kontrak, mungkin tahu, materi bukan segalanya. =)
akhirnya setelah gw membahas panjang lebar tentang karakter Nagabonar (secara umum). gw beri 4thumbs! buat film ini. gw seneng banget atas meaning yang dibawa di film ini. gw mungkin harus belajar lebih dalam lagi tentang hidup. tapi setidaknya gw tahu, dari apa yang disampaikan di film Nagabonar Jadi 2, dari apa yang dijadikan lelucon, itu sebenarnya sebuah ironi. yah! kalo mau berpikir sejenak (dan tidak menikmati lucunya film), lihatlah tentang Nagabonar yang selalu menghormati pejuang, Nagabonar yang mempertanyakan suatu ‘etika’ –dimana kadang etika harus dimenangkan dari hati, Nagabonar yang mempertanyakan kenapa di kota besar begini repot aturannya dan Nagabonar yang mempertanyakan ‘mengapa hidup itu selalu susah dan membuat susah orang?’. when will we happy? not happy with hedonism, but happy with your heart? when will you happy with heart and love?
itu yang udah gw dapat dari film ini. gambaran hidup. gw yang mungkin saat ini cupu mungkin bisa belajar dikit dari kepolosan Nagabonar menjalani hidup. hidup untuk orang dicintai mungkin sudah cukup untuk segalanya ; daripada hidup untuk banyak hal tapi tidak dicintai.
ada satu hal lagi, saat lu melihat isi film ini dan kritik yang ada di dalamnya, jelas sekali, semua hal terekam di film itu adalah gambaran negara kita yang (ternyata) masi ‘ancur’. jujur, andai gw punya power, gw pengen benahi di negeri. gw kalo bisa bawa negeri ini di-akui oleh bangsa lain. gw pengen negeri ini yang dicari orang dan bukan kita yang mencari negeri orang. pertanyaan ‘kapan negeri ini bisa makmur?’. kayanya harus dijawab dengan ‘negeri ini makmur saat gw ikut membuat negeri ini makmur.’ =)
itu aja dari gw. ga mo panjang lebar lagi, coz ini ud j2. sori bila blog ini agak membingung kan dan selalu ‘berisi’ tentang hidup. seakan gw tau banyak dan berceramah selalu tentang apa itu hidup. maklum, ini hanya sebagian dari langkah gw menuju ‘dewasa’…. he5.. :p LIFE MUST GO ON, BUNG!!!
PEACE
Hardian Prabianto
*disarankan untuk menonton Nagabonar yang jadul, biar lebih mengerti ni film.
