…the power of giving!
Sunday, September 30th, 2007If you have much, give of your wealth; if you have little, give of your heart.
Anonymous
Arabic proverb.
so… topik blog gw kali ini adalah GIVING…MEMBERI… agak aneh gw tiba2 bahas topik ini, padahal gw sendiir ud ada rencana mo nulis tentang 1 bulan gw tinggal di kos gw yang baru ato ga mo nulis tentang 1 minggu gw kemaren yang sangat sibuk abis. so, gw mule aja. gw tulis topik ini karena gw baca tulisan di groups TI2005 yang menurut gw sangat bagus. topiknya tentang MEMBERI! MEMBERI…apa itu memberi? apa esensi dari memberi? apa keuntungan dari memberi? mengapa kita harus memberi?
untuk menjawab semua itu, mungkin gw harus sedikit berpaling pada quote Yesus Kristus… "mem-beri-lah maka kamu akan di beri"… so, jadi Yesus (Nabi Isa) udah sejak dulu ngomong bahwa hidup ini bukan meminta.. bukan membuat diri jadi raja sehingga oranglain tapi bagaimana kita memberi…menjadi pelayan…menjadi seseorang yang mengabdikan diri buat orang lain.
mungkin buat temen2 yang baru denger kata-kata ini pasti ngomong gw orangnya freak..ato bisa juga gw agak konslet (gila)…ada juga yang mungkin akan bilang kalo didi akan ber’kotbah’ / ber’dakwah’ ntar lagi.. but it’s ok.. gw cuma mau memberi comment tentang kata MEMBERI ini dan kaitannya dalam kehidupan manusia. so..let’s begin!
pertama, gw awali dulu dengan 1 hal yang sangat gw percayai.. yaitu DUNIA INI, HIDUP INI adalah SEIMBANG!!! sangat-sangat BALANCE! so.. ketika lu ingin mendapatkan sesuatu, lu harus berbuat sesuatu untuk mendapatkannya ; manusia juga ga ada yang lebih, saat ada something yang lebih pasti manusia juga punya kekurangan ; demikian juga ketika lu ingin membeli sesuatu, lu harus membayarnya, even lu mencuri maka lu harus terima konsekuensinya…so, ga ada di dunia ini yang hanya 1 arah, semua memiliki feedback. trust me!
dari kata2 diatas, bisa disimpulkan bahwa hidup itu adalah menyeimbangkan antara sisi yang satu dengan sisi yang lainnya. just that! simple!… but behind the simplicity is laying down the complexity… kenapa? karena konsep keseimbangan ini sangat amat sulit dilakukan, walopun konsepnya mudah. kenapa sulit? karena konsep ini akan kembali ke manusianya masing-masing. jelasnya adalah manusia sendirilah yang bisa membuat dirinya seimbang.
nah… sekarang balik lagi ke topik ‘memberi’. sesuai dengan konsep balance tadi so… saat lu MENERIMA sesuatu, lu harus juga MEMBERI… semuanya itu ’semata-mata’ untuk MENYEIMBANGKAN hidup lu sendiri. mungkin buat jelasnya, gw ambil contoh… saat hidup lu penuh dengan kekayaan, lu harus beramal ; saat lu penuh dengan pengetahuan, lu harus membaginya dengan yang lain ; even saat lu penuh dengan masalah (’diberi’ masalah), lu juga harus membagianya dengan yang lain (misal. curhat, dll). so… mulai dari sini aja, jadilah manusia yang seimbang… MENERIMA tapi juga MEMBERI… 1 arah, bukan 2 arah!
tapi…*ada tapi-nya*, pernyataan gw ini akan balik lagi ke manusia sendiri. maukah manusia itu sendiri untuk hidup seimbang??? apakah bisa hidup dengan memberi dan tidak menerima saja? hmmm.. gw yakin itu bakal sulit beeng *beeng = banget*.. buat gw sendiri yang udah nulis ini; kadang2 gw juga ngerasa bahwa memberi itu sangat sulit… nah bicara tentang sulit memberi ini, gw ada kejadian yang trus terang membuat gw agak berdosa, terutama setelah gw membaca artikel dibawah ini. nah! biar ga bingung gw ceritain aja kejadian senin kemaren…
senen kemaren gw ada kuliah Management Inovation –dosennya Pak Raka, orang yang sangat hebat dan pintar sekali (kl ga salah, ud gw ceritain diblog lalu ttg beliau)… nah, karena berhubung ditengah kuliah ada istirahat 20menit, pas istirahat gw iseng2 nulis dokumen scholarship yg ud gw dapatkan… niatnya mo nyombong doank, biar orang laen liat gw lagi ngapain *aduh! didi!!!* dan akhirnya malah ga kesampean, karena ujug2 ga ada yang merhatiin. ..hahaha *jangan ditiru ya!*
jadi pas gw nulis, temen gw dateng mo ngbrol. tiba2 dia ga jadi karena mungkin liat gw lagi sibuk. gw akhirnya minta dia buat tetep ngbrol dan gw ga lanjutin nulis form scholarship itu. gw, saat itu, mencoba menyembunyikan form itu. gw males aj kalo ada orang lain yang daftar juga dan buat kesempatan gw makin kecil. *jangan ditiru lagi…lagi banyak setannya dalam hati gw*
akhirnya temen gw itu curhat something dan pada akhir curhat, dia nanya gw darimana dapet form ini… "NAH!!!" bener kan kata gw dalem hati… gw cuma ngelak pas ditanya… gw waktu itu pengen ga ngasi tau semua info yang gw punya biar cuma gw aja yang nulis itu, gw pengen peluang gw besar buat dapetin tu schlrshp… ancur banget dah gw waktu itu! gw cuma mentingin diri sendiri dan pada akhirnya melihat temen gw itu sebagai orang yang ‘bisa’ menghancurkan rencana gw dapet schlrshp… *padahal kl dipikir2, seseorang dapet itu karena kemampuan dan bukan karena peluang probabilitas*..
intinya, akhirnya temen gw itu cuma minta softcopy kalo ada… gw cuma diam dan dalam hati gw ngomong bahwa gw ini orang yang sangat brengsek… gw cuma mau enaknya sendiri. gw bahkan ga mau berbagi atas apa yang gw dapet. ibaratnya adalah lu seorang yang pintar tapi ga mau bagi ilmu lu itu karena takut ada orang yang bakal lebih pintar dari lu… *nah lo! sapa tu yang ngerasa?*… dan itu berlanjut mpe kamis kemaren. temen2 gw akhirnya tau bahwa gw mo daftar… temen2 gw tau secara ga sengaja wkt ngeliat form yang dibawa gw… pokoknya kacao dah!…
saat itu, sekali lagi gw ga mau bagi ni form… pikir gw, enak aja gw bagi2 tu form…dapetinnya kan mahal, etc… sikap egois, sekali lagi keluar dari gw… dan akhirnya adalah gw menjadi ga enak lagi… gw ngerasa gw egois banget. dan gw bener2 ga nyaman dalam keadaan itu. jadi… ibaratnya gw bener2 nothing aja..
nah… ampe akhirnya mungkin gw harus berubah menjadi seseorang yang bisa lebih memberi setelah membaca artikel ini…
dikutip dari fauzirachmanto.blogspot.com
Power of Giving
Saya kemarin mencuri baca salah satu buku koleksi anak saya. Judulnya, “Hadiah Terindah”, yang merupakan seri pertama dari Chicken Soup for the Soul Graphic Novel, kumpulan kisah nyata yang dituangkan dalam bentuk komik. Ada salah satu cerita yang menarik buat saya:
Alkisah, ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark, yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya. Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.
Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus. Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata: “Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah mata nya. Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terimakasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar. Dan dengan riang gembira, keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.
Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi. Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus. Tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.
Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi. The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”. Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.
Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman, menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa, dan membebaskan oksigen.
Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir.
Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: Apakah yang harus saya berikan? Jawabannya sama dengan pertanyaan: apa yang Anda ingin dapatkan? Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang, jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan, jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang. Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yg mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda! Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang. Ada yg bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak? Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi, hehehe …
Seandainya giving belum menjadi habit, sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan. InsyaAllah jika dilaksanakan secara rutin, akan memperkuat syaraf giving Anda:
1. Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, usahakan membawakan suatu hadiah. Apapun bentuk hadiah tadi. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu, namun sering kita lupakan. Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh. Anda juga bisa memulai kebiasaan ini. Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga (lho ini mau nyatain apa ya?), atau doa. Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, ya berikan saja doa ketika Anda bertemu dengan seseorang.
2. Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini. Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa? Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta. Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat, sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal, bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi. Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan handphone baru atau iPod baru kepada Anda. Jelas Anda harus syukuri apa yg Anda terima.
3. Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa berikan setiap saat:
- Cinta. Mungkin Anda langsung tertawa. Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya. Mungkin Anda benar. Yang harus Anda ingat adalah, seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, harus di praktek-kan. Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda, praktek-kan. Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda? Dan mengucapkan bahwa Anda sayang anak Anda?
- Tawa. Ini bukan hal sepele. Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan. Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia melalui tertawa. Berapa kali dalam sehari Anda tertawa? Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari, dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari. Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda lebih menyukai Mas Thukul daripada Anda.
- Pengetahuan. Anda pasti tahu sesuatu labih baik dari seseorang. Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan. Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan. Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan. Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift dari Yang Maha Kuasa.
Banyak contoh di dunia ini, dimana orang memberikan pengetahuan nya, dan menuai banyak sekali manfaat, termasuk dalam finansial. Gary Craig, penemu teknik Emotional Freedom Technic, memberikan ebook nya secara cuma-cuma. Azim Jamal, seorang penulis dan pembicara terkenal di Kanada, menyumbangkan 100% dari hasil penjulan buku nya “Power of Giving” untuk charity. Ya, 100%, bahkan semula buku nya bisa di download gratis dalam bentuk ebook, sebelum publishernya meminta Azim menghentikan.
Saya tutup catatan kali ini dengan sebuah cerita humor Sufi berikut ini:
Alkisah ada seorang Sufi yang sudah merasa teramat dekat dengan Tuhan nya. Suatu hari ketika sedang berjalan, Sang Sufi berpapasan dengan seorang yang sangat miskin. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit yang dibungkus dengan kain compang-camping seadanya. Badan nya tergeletak lemas di pinggir jalan, bibirnya mengering, menandakan sudah lama si miskin tidak mendapat makan. Melihat penderitaan si miskin, Sang Sufi pun berteriak protes pada Tuhan nya: “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak lakukan sesuatu untuk orang ini !!“. Sesaat kemudian, terdengar jawaban: “Ya! Makanya Aku ciptakan kamu!“.
setelah gw baca post dari temen gw itu dgroups (walopun sumbernya ternyata dari blog orang lain), tampaknya gw mule menyadari bahwa hidup ini harus seimbang. lu ga bisa di daerah menerima saja, dan lu juga ga bisa di daerah memberi saja… make it BALANCE! kenapa gw bisa percaya ini? mungkin gara2 gw pernah mengalami suatu kejadian…
percaya ato ga… gw pulang ngerjain tugas PTI… waktu itu j2malam / j6pagi (pokoknya gw biz pulang ngerjain PTI) dan tanggalnya gw lupa juga, hehehe =p. di perempatan dago, gw liat ada ibu pengemis. waktu itu jendela mobil gw buka, coz udara dingin dan gw ga usah pake AC… yah, pokoknya gw ngerasa tu pengemis kayanya ga yang biasanya gw liat.. berhubung mobil gw paling depan dan dibelakang gw ga ada mobil lain… gw jadi iba aja dan kasi dia uang yang ga seberapa… *btw…ini gw bukan nyombong ya…*
suatu hal yang bikin gw makin tersentuh adalah ibu itu ga langsung jalan (ga kaya kebanyakan pengemis yang kl ud dikasi ya ngelonyor aj)… dia diam, bilang terimakasih ke gw (yg dimana saat itu jendela gw terbuka lebar)… dia tampak sangat bersyukur dan dia mendoakan gw biar sukses, banyak rejeki, dll *AMIN!!!…*… but, bukan tentang kata-kata terimakasih dia yang gw mo dibahas disini… gw hanya melihat ternyata, pemberian gw yang ga seberapa itu, sangat-amat berharga buat ibu pengemis itu.
pas kejadian itu, gw sangat tersentuh aja… gw merasa gw bisa memberikan sesuatu yang membuat orang lain senang/gembira ato ga ya bisa buat mengikis sedikit masalah orang lain… saat itu gw cuma mikir, ternyata gw masih bisa berguna buat orang *even yang gw kasi itu bukan duit dari keringet gw sendiri*… tapi tampaknya, gw puas bisa memberikan sesuatu bagi yang memerlukan. that’s the point!
ada lagi kejadian yang menyentuh… waktu itu gw pas lagi makan bebek borromeus –bareng 2006. pas gw makan, ada pengemis bapak dan anaknya. agak aneh aja karena biasanya pengemis ya ibu dan anak kecil… dari tampangnya bapak itu terlihat bukan pengemis. gw akhirnya memberikan seberapa dari gw… gw seneng aja bisa menolong *even kata orang lain gw terlalu baek dan ga mendidik*. gw cuma merasa heran aja ada bapak berani mengemis… gw hanya positif thinking bahwa bapak itu kalo ga lagi bener2 kepepet sehingga berani malu buat ngemis, bisa juga ya uda kehilangan rasa malu jadi fine2 aja dia ngemis…so,,, gw cuma berpikir bahwa gw berpendapat bahwa tu orang mang lagi perlu banget aj…
nah… 2 kejadian itu. gw cuma bisa ngambil hikmah bahwa ternyata hidup gw udah sangat-sangat beruntung daripada orang-orang duafa itu. hidup gw bener-bener baik. Tuhan bener-bener sangat baik buat gw dengan memberikan hidup gw yang indah ini. so… gw ga nyesel bahwa gw telah memberikan sebagian yang gw punya itu. gw ga menyesal karena gw setidaknya bisa menolong meringankan mereka *even duitnya sebenernya bukan hasil kerja gw*…dan gw jadi lebih menyadari atas apa yang gw dapatkan dan atas apa yang harusnya gw syukuri.
apa yang gw dapat dari banyak kejadian itu adalah… gw mencoba untuk tidak takut memberi lagi… gw mencoba untuk memberi dan tidak menerima saja… gw mencoba untuk menjadi seseorang yang lebih baek dan lebih tau posisi gw… gw mencoba menjadi seseorang yang bisa membahagiakan banyak orang *ga hanya bonyok dan adek gw, tapi juga ‘kalo bisa’ untuk semua orang, even gw ga kenal tu orang*
so… kesimpulannya adalah saat lu memberi, lu tau apa yang harus lu syukuri ; saat lu tau apa yang harus lu syukuri, lu semakin tahu bahwa Tuhan MahaMurah dan MahaBaik ; saat lu tau bahwa Tuhan begitu hebat-Nya, lu semakin berusaha menjadi yang terbaik dihadapan-Nya dengan mengembangkan dan merawat apa yang Tuhan telah berikan untuk lu ; dan semakin lu mengembangkan, merawat dan memberi apa yang lu bisa beri untuk orang lain, Tuhan pasti tidak akan tinggal diam karena Tuhan pasti akan menambah terus apa yang lu punya dan tidak akan pernah habis pemberian Tuhan.
segini aja blog gw… thanx buat baca… sori kalo panjang beeng… gw hanya ingin sharing buat teman-teman semua… moga2 ini bisa bermanfaat…. jangan takut memberi karena dengan memberi lu ga bakal habis tapi malah makin kaya… inilah hidup! cobalah pandang dari sudut pandang berbeda …karena sudut pandang normal tidak akan memberikan lu kedamaian/ketentraman hati…
PEACE
Hardian Prabianto
13405097
Teknik Industri ITB